Sidebar Collection and Gallery

Loading...

Rabu, 31 Maret 2010

Khasiat Rimpang "TEMULAWAK"

Tampilkan Inisial Kode

Kamis, 04 Maret 2010

Prospek Member PULSA Potensial

PromoBareng and Rekan
ANDA Ingin Menjadi Member Jaringan USAHA PULSA Serta Keagenan PULSA POTENSIAL dari DBS PT. DFI : member (user ID DBS : 3788888 marsoeroto@gmail.com UP Line DBS3788907 Basori Alwi) Graha Kembangan Asri FB-17, GRESIK 031 78124955 e-mail : info.warga@yahoo.com, titiknun@gmail.com, fathjaya@gmail.com, mh22joen@yahoo.co.id

(Promo, Shinergy and Friends)
ID: DBS3788888 Marsuroto Up Line DBS 3788907 BASORI ALWI



PT. DFI (Duta Future International)

Rabu, 30 September 2009

Ekspor buah hadapi banyak kendala

Ekspor buah hadapi banyak kendala

PANGALENGAN: Ekspor produk buah-buahan dan sayuran asal Indonesia terkendala sejumlah hambatan, sehingga sulit bersaing di pasar dunia. Padahal, potensi ekspor produk tersebut cukup menjanjikan.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu memaparkan sejumlah hambatan ekspor buah-buahan dan sayuran, di antaranya problem logistik, kualitas yang mengganggu daya saing, dan terganjal aturan di pasar tujuan ekspor.

Mari mengakui problem logistik masih menjadi persoalan utama yang belum dapat terselesaikan hingga kini. Adapun masalah kualitas dan aturan terkait dengan sejumlah syarat kesehatan yang harus dipenuhi oleh negara pengekspor di negara tujuannya, seperti standar produk pertanian.

"Pemerintah akan terus mempelajari kendala-kendala ini dan berusaha menyesuaikan dengan peraturan di negara tujuan yang terus berkembang," kata Mari, di sela-sela kunjungan ke PT Alamanda Sejati Utama, eksportir produk pertanian, kemarin.

Problem lain adalah volume. Eksportir buah-buahan dan sayuran kesulitan memenuhi permintaan pasar ekspor dalam jumlah besar karena tidak didukung plantation di dalam negeri.

Menurut Mari, beberapa produk unggulan ekspor, seperti nanas dan pisang cenderung dikembangkan di tingkat petani, sehingga jumlahnya pun tidak banyak, sedangkan permintaan di pasar ekspor sangat besar.

Dia menegaskan untuk mengatasi hambatan itu, pemerintah akan melakukan pengembangan kapasitas eksportir agar bisa memahami pasar tujuan dan peraturan negara tujuan ekspor, seperti Eropa, Amerika, Australia, China, dan Korea Selatan.

"Biasanya kita juga minta capacity building dari negara yang bersangkutan untuk membantu kita memahami dan menyiapkan laboratoriumnya, peralatan, dan pengetahuannya. Ini menjadi tugas Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan," katanya.

Komar Muljawibawa, Direktur PT Alamanda Sejati Utama, menambahkan beberapa persoalan lain, di antaranya infrastruktur seperti sarana jalan yang belum menjangkau seluruh daerah produksi pertanian, kurangnya pelabuhan ekspor, dan minimnya penerbangan khususnya cargo untuk ekspor.

Semua hal itu, kata dia, menyebabkan tingginya biaya ekonomi yang tinggi sehingga produk tidak kompetitif.

Eksportir Sayuran Keluhkan Ongkos Kargo yang Mahal

Eksportir Sayuran Keluhkan Ongkos Kargo yang Mahal

BANDUNG. Eksportir sayurmayur dan buah-buahan asal Jawa Barat mengeluhkan ongkos kargo pengiriman barang ke pasar luar negeri yang mahal. Akibatnya, komoditas hasil pertanian dari Indonesia menjadi sulit bersaing. "Pemerintah harus mencari jalan keluar agar ongkos lebih murah," kata Direktur Utama PT Alamanda Sejati Utama Komar Muljawibawa di Kabupaten Bandung, Minggu (7/9).

Ia mengungkapkan, dibanding negara-negara anggota ASEAN, tarif kargo udara di Indonesia tergolong paling mahal. Komar mencontohkan, maskapai di Malaysia menerapkan tarif sangat murah bagi pengiriman sayuran lewat kargo udara karena ada campur tangan dari pemerintah. Tapi tidak demikian dengan kargo udara Indonesia. Tarif kargo Garuda Indonesia sekali pun kelewat mahal bagi pengekspor sayur-mayur dan buah-buahan.

Komar menambahkan, perihal citarasa, mutu, dan kesehatan, sejatinya produk Indonesia mampu bersaing dengan kompetitor di luar negeri. Tapi lantaran ongkos kargo mahal, harga sayuran dan buah-buahan asal Indonesia menjadi lebih mahal.

Komar menuturkan agar produk ekspor kita bersaing, pemerintah seharusnya memberikan subsidi biaya transportasi. Jika hal itu terjadi, dia tis optimis produk sayuran dan buah asal Indonesia akan kompetitif di pasar ekspor. Sebaliknya, jika pemerintah tetap mempertahankan ongkos kargo tinggi, Komar khawatir pasar ekspor sayuran dan buah-buahan Indonesia akan semakin menipis.

Komar sudah mengembangkan produk pertanian berorientasi ekspor sejak tahun 1994. Perusahaan yang berlokasi di Pengalengan Kabupaten Bandung itu menggandeng 1.000 petani sebagai mitra usaha. Tahun 2008 lalu, volume ekspor PT Alamanda mencapai 3000 ton senilai US$ 5 juta.

Produk yang mereka ekspor antara lain terdiri dari sayuran seperti buncis, kentang, kol, kubis, tomat, cabe dan jahe. PT Alamanda juga mengekspor mangga, salak, nanas, dan buah-buahan lain ke sejumlah negara seperti Singapura, Taiwan, Jepang, Arab Saudi, Pakistan, dan China.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu berjanji akan berkoordinasi dengan kementerian negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mengatasi masalah tersebut. Menurut dia, mekanisme penurunan ongkos dengan cara subsidi adalah salah satu jalan keluarnya. "Prinsipnya, kebijakan logistik ekspor dan impor ini akan menjadi fokus perbaikan pemerintah," ujar Mari.

Jumat, 21 November 2008

Beberapa Tips Budidaya Apel

  • Beberapa Panduan/Tips Untuk Budidaya Apel

    1. ASAL USUL SEJARAH SINGKATApel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis. Di Indonesia apel telah ditanam sejak tahun 1934 hingga saat ini.
    2. JENIS TANAMANMenurut sistematika, tanaman apel termasuk dalam:1) Divisio : Spermatophyta2) Subdivisio : Angiospermae3) Klas : Dicotyledonae4) Ordo : Rosales5) Famili : Rosaceae6) Genus : Malus7) Spesies : Malus sylvestris MillDari spesies Malus sylvestris Mill ini, terdapat bermacam-macam varietas yang memiliki ciri-ciri atau kekhasan tersendiri. Beberapa varietas apel unggulan antara lain: Rome Beauty, Manalagi, Anna, Princess Noble dan Wangli/Lali jiwo.
    3. MANFAAT TANAMANApel mengandung banyak vitamin C dan B. Selain itu apel kerap menjadi pilihan para pelaku diet sebagai makanan substitusi.
  • 4. SENTRA PENANAMANDi Indonesia, apel dapat tumbuh dan berbuah baik di daerah dataran tinggi. Sentra produksi apel di adalah Malang (Batu dan Poncokusumo) dan Pasuruan (Nongkojajar), Jatim. Di daerah ini apel telah diusahakan sejak tahun 1950, dan berkembang pesat pada tahun 1960 hingga saat ini. Selain itu daerah lain yangbanyak dinanami apel adalah Jawa Timur (Kayumas-Situbondo, Banyuwangi), Jawa Tengah (Tawangmangu), Bali (Buleleng dan Tabanan), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Sedangkan sentra penanaman dunia berada di Eropa, Amerika, dan Australia.
    5. SYARAT TUMBUH5.1. Iklim1) Curah hujan yang ideal adalah 1.000-2.600 mm/tahun dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Dalam setahun banyaknya bulan basah adalah 6-7 bulan dan bulan kering 3-4 bulan. Curah hujan yang tinggi saat berbunga akan menyebabkan bunga gugur sehingga tidak dapat menjadi buah.2) Tanaman apel membutuhkan cahaya matahari yang cukup antara 50-60% setiap harinya, terutama pada saat pembungaan.3) Suhu yang sesuai berkisar antara 16-27 derajat C.4) Kelembaban udara yang dikehendaki tanaman apel sekitar 75-85%.5.2. Media Tanam1) Tanaman apel tumbuh dengan baik pada tanah yang bersolum dalam, mempunyai lapisan organik tinggi, dan struktur tanahnya remah dan gembur, mempunyai aerasi, penyerapan air, dan porositas baik, sehingga pertukaran oksigen, pergerakan hara dan kemampuan menyimpanan airnya optimal.2) Tanah yang cocok adalah Latosol, Andosol dan Regosol.3) Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok untuk tanaman apel adalah 6-7 dan kandungan air tanah yang dibutuhkan adalah air tersedia.
  • 4) Dalam pertumbuhannya tanaman apel membutuhkan kandungan air tanah yang cukup
  • 5) Kelerengan yang terlalu tajam akan menyulitkan perawatan tanaman, sehingga bila masih memungkinkan dibuat terasering maka tanah masih layak ditanami.5.3. Ketinggian TempatTanaman apel dapat tumbuh dan berbuah baik pada ketinggian 700-1200 m dpl. dengan ketinggian optimal 1000-1200 m dpl.
    6. PEDOMAN BUDIDAYA6.1. PembibitanPerbanyakan tanaman apel dilakukan secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan yang baik dan umum dilakukan adalah perbanyakan vegetatif, sebab perbanyakan generatif memakan waktu lama dan sering menghasilkan bibit yang menyimpang dari induknya. Teknik perbanyakan generatif dilakukan dengan biji, sedangkan perbanyakan vegetatif dilakukan dengan okulasi atau penempelan (budding), sambungan(grafting) dan stek.1) Persyaratan BenihSyarat batang bawah : merupakan apel liar, perakaran luas dan kuat, bentuk pohon kokoh, mempunyai daya adaptasi tinggi. Sedangkan syarat mata tunas adalah berasal dari batang tanaman apel yang sehat dan memilki sifat-sifat unggul.2) Penyiapan BenihPenyiapan benih dilakukan dengan cara perbanyakan batang bawah dilakukan langkah-langkah sebagai beriku t:a) Anakan / siwilan1. Ciri anakan yang diambil adalah tinggi 30 cm, diameter 0,5 cm dan kulit batang kecoklatan.2. Anakan diambil dari pangkal batang bawah tanaman produktif dengan cara menggali tanah disekitar pohon, lalu anakan dicabut beserta akarnya secara berlahan-lahan dan hati-hati.3. Setelah anakan dicabut, anakan dirompes dan cabang-cabang dipotong, lalu ditanam pada bedengan selebar 60 cm dengan kedalaman parit 40 cm.b) Rundukan (layering)1. Bibit hasil rundukan dapat diperoleh dua cara yaitu:- Anakan pohon induk apel liar: anakan yang agak panjang direbahkan melekat tanah, kemudian cabang dijepit kayu dan ditimbun tanah; penimbunan dilakukan tiap 2 mata; bila sudah cukup kuat, tunas dapatdipisahkan dengan cara memotong cabangnya.- Perundukan tempelan batang bawah: dilakukan pada waktu tempelan dibuka (2 minggu) yaitu dengan memotong 2/3 bagian penampang batang bawah, sekitar 2 cm diatas tempelan; bagian atas keratan dibenamkan dalam tanah kemudian ditekuk lagi keatas. Pada tekukan diberi penjepit kayu atau bambu.2. Setelah rundukan berumur sekitar 4 bulan, dilakukan pemisahan bakal bibit dengan cara memotong miring batang tersebut dibawah keratan atau tekukan. Bekas luka diolesi defolatan.c) StekStek apel liar berukuran panjang 15-20 cm ( diameter seragam dan lurus), sebelum ditanam bagian bawah stek dicelupkan ke larutan Roton F untuk merangsang pertumbuhan akar. Jarak penanaman 30 x 25 cm, tiap bedengan ditanami dua baris. Stek siap diokulasi pada umur 5 bulan, diameter batang ± 1cm dan perakaran cukup cukup kuat.3) Teknik Pembiitana) Penempelan1. Pilih batang bawah yang memenuhi syarat yaitu telah berumur 5 bulan, diameter batang ± 1 cm dan kulit batangnya mudah dikelupas dari kayu.2. Ambil mata tempel dari cabang atau batang sehat yang berasal dari pohon apel varietas unggul yang telah terbukti keunggulannya. Caranya adalah dengan menyayat mata tempel beserta kayunya sepanjang 2,5-5 cm (Matanya ditengah-tengah). Kemudian lapisan kayu dibuang dengan hati-hati agar matanya tidak rusak3. Buat lidah kulit batang yang terbuka pada batang bawah setinggi ± 20 cm dari pangkal batang dengan ukuran yang disesuaikan dengan mata tempel. Lidah tersebut diungkit dari kayunya dan dipotong setengahnya.4. Masukkan mata tempel ke dalam lidah batang bawah sehingga menempel dengan baik. Ikat tempelan dengan pita plastik putih pada seluruh bagian tempelan.5. Setelah 2-3 minggu, ikatan tempelan dapat dibuka dan semprot/ kompres dengan ZPT. Tempelan yang jadi mempunyai tanda mata tempel berwarna hijau segar dan melekat.6. Pada okulasi yang jadi, kerat batang sekitar 2 cm diatas okulasi dengan posisi milintang sedikit condong keatas sedalam 2/3 bagian penampang.Tujuannya untuk mengkonsentrasikan pertumbuhan sehingga memacu pertumbuhan mata tunas.b) Penyambungan1. Batang atas (entres) berupa cabang (pucuk cabang lateral).2. Batang bawah dipotong pada ketinggian ± 20 cm dari leher akar.3. Potong pucuknya dan belah bagian tengah batang bawah denngan panjang 2-5 cm.4. Cabang entres dippotong sepanjang ± 15 cm (± 3 mata), daunnya dibuang, lalu pangkal batang atas diiris berbentuk baji. Panjang irisan sama dengan panjang belahan batang bawah.5. Batang atas disisipkan ke belahan batang bawah, sehingga kambium keduanya bisa bertemu.6. Ikat sambungan dengan tali plastik serapat mungkin.7. Kerudungi setiap sambungan dengan kantung plastik. Setelah berumur 2-3 minggu, kerudung plastik dapat dibuka untuk melihat keberhasilan sambungan.4) Pemeliharaan pembibitanPemeliharaan batang bawah meliputia) Pemupukan: dilakukan 1-2 bulan sekali dengan urea dan TSP masing-masing 5 gram per tanaman ditugalkan (disebar mengelilingi) di sekitar tanaman.b) Penyiangan: waktu penyiangan tergantung pada pertumbuhan gulma.c) Pengairan: satu minggu sekali (bila tidak ada hujan)d) Pemberantasan hama dan penyakit: disemprotkan pestisida 2 kali tiap bulan dengan memperhatikan gejala serangan. Fungisida yang digunakan adalah Antracol atau Dithane, sedangkan insektisida adalah Supracide atau Decis.Bersama dengan ini dapat pula diberikan pupuk daun, ditambah perekat Agristic.5) Pemindahan BibitBibit okulasi grafting (penempelan dan sambungan) dapat dipindahkan ke lapang pada umur minimal 6 bulan setelah okulasi, dipotong hingga tingginya 80-100 cm dan daunnya dirompes.6.2. Pengolahan Media Tanam1) PersiapanPersiapan yang diperlukan adalah persiapan pengolahan tanah dan pelaksanaan survai. Tujuannya untuk mengetahui jenis tanaman, kemiringan tanah, keadaan tanah, menentukan kebutuhan tenaga kerja, bahan paralatan dan biaya yang diperlukan.2) Pembukaan LahanTanah diolah dengan cara mencangkul tanah sekaligus membersihkan sisa-sisa tanaman yang masih tertinggal.3) Pembentukan BedenganPada tanaman apel bedeng hampir tidak diperlukan, tetapi hanya peninggian alu penanaman.4) PengapuranPengapuran bertujuan untuk menjaga keseimbangan pH tanah. Pengapuran hanya dilakukan apabila ph tanah kurang dari 6.5) PemupukanPupuk yang diberikan pada pengolahan lahan adalah pupuk kandang sebanyak 20 kg per lubang tanam yang dicampur merata dengan tanah, setelah itu dibiarkan selama 2 minggu.6.3. Teknik Penanaman1) Penentuan Pola TanamTanaman apel dapat ditanam secara monokultur maupun intercroping. Intercroping hanya dapat dilakukan apabila tanah belum tertutup tajuk-tajuk daun atau sebelum 2 tahun. Tapi pada saat ini, setelah melalui beberapa penelitian intercroping pada tanaman apel dapat dilakukan dengan tanaman yang berhabitatrendah, seperti cabai, bawang dan lain-lain. Tanaman apel tidak dapat ditanam pada jarak yang terlalu rapat karena akan menjadi sangat rimbun yang akan menyebabkan kelembaban tinggi, sirkulasiudara kurang, sinar matahari terhambat dan meningkatkan pertumbuhan penyakit. Jarak tanam yang ideal untuk tanaman apel tergantung varietas. Untuk varietas Manalagi dan Prices Moble adalah 3-3.5 x 3.5 m, sedangkan untuk varietas Rome Beauty dan Anna dapat lebih pendek yaitu 2-3 x 2.5-3 m.2. Pembuatan Lubang TanamUkuran lubang tanam antara 50 x 50 x 50 cm sampai 1 x 1 x 1 m. Tanah atas dan tanah bawah dipisahkan, masing-masing dicampur pupuk kandang sekurangkurangnya 20 kg. Setelah itu tanah dibiarkan selama ± 2 minggu, dan menjelang tanam tanah galian dikembalikan sesuai asalnya.3. Cara PenanamanPenanaman apel dilakukan baik pada musim penghujan atau kemarau (di sawah). Untuk lahan tegal dianjurkan pada musim hujan.Cara penanaman bibit apel adalah sebagai berikut:a. Masukan tanah bagian bawah bibit kedalam lubang tanam.b. Masukan bibit ditengah lubang sambil diatar perakarannya agar menyebar.c. Masukan tanah bagian atas dalam lubang sampai sebatas akar dan ditambah tanah galian lubang.d. Bila semua tanah telah masuk, tanah ditekan-tekan secara perlahan dengan tangan agar bibit tertanam kuat dan lurus. Untuk menahan angin, bibit dapat ditahan pada ajir dengan ikatan longgar.6.4. Pemeliharaan Tanaman1) Penjarangan dan penyulamanPenjarangan tanaman tidak dilakukan, sedangkan penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati atau dimatikan kerena tidak menghasilkan dengan cara menanam tanaman baru menggantikan tanaman lama. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.2) PenyianganPenyiangan dilakukan hanya bila disekitar tanaman induk terdapat banyak gulma yang dianggap dapat mengganggu tanaman. Pada kebun yang ditanami apel dengan jarak tanam yang rapat (± 3×3 m), peniangan hampir tidak perlu dilakukan karena tajuk daun menutupi permukaan tanah sehingga rumput-rumput tidak dapat tumbuh.3) PembubunanPenyiangan biasanya diikuti dengan pembubunan tanah. Pembubunan dimaksudkan untuk meninggikan kembali tanah disekitar tanaman agar tidak tergenang air dan juga untuk menggemburkan tanah. Pembubunan biasanya dilakukan setelah panen atau bersamaan dengan pemupukan.4) Perempalan/PemangkasanBagian yang perlu dipangkas adalah bibit yang baru ditanam setinggi 80 cm, tunas yang tumbuh di bawah 60 cm, tunas-tunas ujung beberapa ruas dari pucuk, 4-6 mata dan bekas tangkai buah, knop yang tidak subur, cabang yang berpenyakit dan tidak produkrif, cabang yang menyulitkan pelengkungan, ranting atau daun yang menutupi buah. Pemangkasan dilakukan sejak umur 3 bulan sampai didapat bentuk yang diinginkan(4-5 tahun).5) Pemupukana) Pada musim hujan/tanah sawah1. Bersamaan rompes daun (7. HAMA DAN PENYAKIT7.1. Hama1) Kutu hijau (Aphis pomi Geer)Ciri: kutu dewasa berwarna hijau kekuningan, antena pendek, panjang tubuh 1,8 mm, ada yang bersayap ada pula yang tidak; panjang sayap 1,7 mm berwarna hitam; perkembangbiakan sangat cepat, telur dapat menetas dalam 3-4 hari. Gejala: (1) nimfa maupun kutu dewasa menyerang dengan mengisap cairan selseldaun secara berkelompok dipermukaan daun muda, terutama ujung tunas muda, tangkai cabang, bunga, dan buah; (2) kutu menghasilkan embun madu yang akan melapisi permukaan daun dan merangsang tumbuhnya jamur hitam (embun jelaga); daun berubah bentuk, mengkerut, leriting, terlambat berbunga, buah-buah muda gugur,jika tidak mutu buahpun jelek. Pengendalian: (1) sanitasi kebun dan pengaturan jarak tanam (jangan terlalu rapat); (2) dengan musuh alami coccinellidae lycosa; (3) dengan penyemprotan Supracide 40 EC (ba Metidation) dosis 2 cc/liter air atau 1-1,6 liter; (4) Supracide 40 EC dalam 500-800 liter/ha air dengan interval penyemprotan 2 minggu sekali; (5) Convidor 200 SL (b.a. Imidakloprid) dosis 0,125-0,250 cc/liter air; (6) Convidor 200 SL dalam 600 liter/h air dengan interval penyemprotan 10 hari sekali (7) Convidor ini dapat mematikan sampai telur-telurnya; cara penyemprotan dari atas ke bawah. Penyemprotan dilakukan 1-2 minggu sebelum pembungaan dan dilanjutkan 1-1,5 bulan setelahbunga mekar sampai 15 hari sebelum panen.2) Tungau, Spinder mite, cambuk merah (panonychus Ulmi)Ciri: berwarna merah tua, dan panjang 0,6 mm. Gejala: (1) tungau menyerang daun dengan menghisap cairan sel-sel daun; (2) pada serangan hebat menimbulkan bercak kuning, buram, cokelat, dan mengering; (3) pada buah menyebabkan bercak keperak-perakan atau coklat. Pengendalian: (1) dengan musah alami coccinellidae dan lycosa; (2) penyemprotan Akarisida Omite 570 EC sebanyak 2 cc/liter air atau 1 liter Akarisida Omite 570 EC dalam 500 liter air per hektar dengan interval 2 minggu.3) TripsCiri: berukuran kecil dengan panjang 1mm; nimfa berwarna putih kekuningkuningan; dewasa berwarna cokelat kehitam-hitaman; bergerak cepat dan bila tersentuh akan segera terbang menghindar. Gejala: (1) menjerang daun, kuncup/tunas, dan buah yang masih sangat muda; (2) pada daun terlihat berbintikbintikputih, kedua sisi daun menggulung ke atas dan pertumbuhan tidak normal; (3) daun pada ujung tunas mengering dan gugur (4) pada daun meninggalkan bekas luka berwarna coklat abu-abu. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur pada daun dan menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidkterlalu rapat; (2) penyemprotan dengan insektisida seperti Lannate 25 WP (b.a. Methomyl) dengan dosis 2 cc/liter air atau Lebaycid 550 EC (b.a. Fention) dengan dosis 2 cc/liter air pada sat tanaman sedang bertunas, berbunga, dan pembentukan buah.4) Ulat daun (Spodoptera litura)Ciri: larva berwarna hijau dengan garis-garis abu-abu memanjang dari abdomen sampai kepala.pada lateral larva terdapat bercak hitam berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran, meletakkan telur secara berkelompok dan ditutupi dengan rambut halus berwarna coklat muda. Gejala: menyerang daun, mengakibatkan lubang-lubang tidak teratur hingga tulang-tulang daun. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur pada daun; (2) penyemprotan dengan penyemprotan seperti Tamaron 200 LC (b.a Metamidofos) dan Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos).5) Serangga penghisap daun (Helopelthis Sp)Ciri: Helopelthis Theivora dengan abdomen warna hitam dan merah, sedang HelopelthisAntonii dengan abdomen warna merah dan putih. Serabgga berukuran kecil. Penjang nimfa yang baru menetas 1mm dan panjang serangga dewasa 6-8mm. Pada bagian thoraknya terdapat benjolan yang menyerupai jarum. Gejala : menyerang pada pagi, sore atau pada saat keadaan berawan; menyerang daun muda, tunas dan buah buah dengan cara menhisap cairan sel; daun yang terserang menjadi coklat dan perkembanganya tidak simetris; tunas yang terserang menjadi coklat, kering dan akhirnya mati; serangan pada buahmenyebabkan buah menjadibercak-bercak coklat, nekrose, dan apabila buah membesar, bagian bercak ini pecah yang menyebebkan kualitas buah menurun. Pengendalian : (1) secara mekanis dengan cara pengerondongan atap plastik/pembelongsongan buah. (2) Penyemprotan dengan insektisida sepertiLannate 25 WP (b.a. Metomyl), Baycarb 500 EC (b.a. BPMC), yang dilakukan pada sore atau pagi hari.6) Ulat daun hitam (Dasychira Inclusa Walker)Ciri: Larva mempunyai dua jambul dekat kepala berwarna hitam yang mengarah kearah samping kepala. Pada bagian badan terdapat empat jambul yang merupakan keumpulan seta berwarna coklat kehitam-hitaman. Disepanjang kedua sisi tubuh terdapat rambut berwarna ab-abu. Panjang larva 50 mm. Gejala : menyerang daun tua dan muda; tanaman yang terserang tinggal tulang daundaunnya dengan kerusakan 30%; pada siang hari larva bersembunyi di balik daun. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur yang biasanya diletakkan pada daun; (2) penyemprotan insektisida seperti : Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos) dan Matador 25 EC.7) Lalat buah (Rhagoletis Pomonella)Ciri: larva tidak berkaki, setelah menetas dari telur (10 hari) dapat segera memakan daging buah. Warna lalat hitam, kaki kekuningan dan meletakkan telur pada buah. Gejala: bentuk buah menjadi jelek, terlihat benjol-benjol. Pengendalian: (1) penyemprotan insektisida kontak seperti Lebacyd 550 EC; (2) membuat perangkat lalat jantan dengan menggunakan Methyl eugenol sebanyak 0,1 cc ditetesan pad kapas yang sudah ditetesi insektisida 2 cc. Kapas tersebutkapas tersebut dimasukkan ke botol plastik (bekas air mineral) yang digantungkan ketinggian 2 meter. Karena aroma yang mirip bau-bau yang dikeluarkan betina, maka jantan tertarik dan menhisap kapas.7.2. Penyakit1) Penyakit embun tepung (Powdery Mildew)Penyebab : Padosphaera leucotich Salm. Dengan stadia imperfeknya adalah oidium Sp. Gejala: (1) pada daun atas tampak putih, tunas tidak normal, kerdil dan tidak berbuah; (2) pada buah berwarna coklat, berkutil coklat. Pengendalian: (1) memotong tunas atau bagian yang sakit dan dibakar; (2) dengan menyemprotka fungisida Nimrod 250 EC 2,5-5 cc/10 liter air (500liter/Ha) atau Afugan 300 EC 0,5-1 cc/liter air (pencegahan) dan 1-1,5 cc/liter air setelah perompesan sampai tunas berumur 4-5 minggu dengan interval 5-7 hari.2) Penyakit bercak daun (Marssonina coronaria J.J. Davis)Gejala : pada daun umur 4-6 minggu setelah perompesan terlihat bercak putih tidak teratur, berwarna coklat, permukaan atas timbul titik hitam, dimulai dari daun tua, daun muda hingga seluruh bagian gugur. Pengendalian: (1) jarak tanam tidak terlalu rapat, bagian yang terserang dibuang dan dibakar; (2) disemprotfungisida Agrisan 60 WP 2 gram/liter air, dosis 1000-2000 gram/ha sejak 10 hari setelah rompes dengan interval 1 minggu sebanyak 10 aplikasi atau Delseme MX 200 2 gram/liter air, Henlate 0,5 gram/liter air sejak umur 4 hari setelah rompes dengan interval 7 hari hingga 4 minggu.3) Jamur upas (Cortisium salmonicolor Berk et Br)Pengendalian: mengurangi kelembapan kebun, menghilangkan bagian tanaman yang sakit.4) Penyakit kanker (Botryosphaeria Sp.)Gejala : menyerang batang/cabang (busuk, warna coklat kehitaman, terkadang mengeluarkan cairan), dan buah (becak kecil warna cokelat muda, busuk, mengelembung, berair dan warna buah pucat. Pengendalian : (1) tidak memanen buah terlalu masak; (2) mengurangi kelembapan kebun; (3) membuang bagian yang sakit; (4) pengerokkan batang yang sakit lalu diolesi fungisida Difolatan 4 F 100 cc/10 liter air atau Copper sandoz; (5) disemprot Benomyl 0,5 gram/liter air, Antracol 70 WP 2 gram/liter air.5) Busuk buah (Gloeosporium Sp.)Gejala: bercak kecil cokelat dan bintik-bintik hitam berubah menjadi orange. Pengendalian : tidak memetik buah terlalu masak dan pencelupan dengan Benomyl 0,5 gram/liter air untuk mencegah penyakit pada penyimpanan.6) Busuk akar (Armilliaria Melea)Gejala : menjerang tanaman apel pada daerah dingin basah, ditandai dengan layu daun, gugur, dan kulit akar membusuk. Pengendalian: dengan eradifikasi, yaitu membongkar/mencabut tanaman yang terserang beserta akar-akarnya, bekas lubang tidak ditanami minimal 1 tahun.
    8. PANEN8.1. Ciri dan Umur PanenPada umumnya buah apel dapat dipanen pada umur 4-5 bulan setelah bunga mekar, tergantung pada varietas dan iklim. Rome Beauty dapat dipetik pada umur sekitar 120-141 hari dari bunga mekar, Manalagi dapat dipanen pada umur 114 hari setelah bunga mekar dan Anna sekitar 100 hari. Tetapi, pada musim hujan dan tempat lebih tinggi, umur buah lebih panjang. Pemanenan paling baik dilakukan pada saat tanaman mencapai tingkat masak fisiologis (ripening), yaitu tingkat dimana buah mempunyai kemampuan untuk menjadi masak normal setelah dipanen. Ciri masak fisiologis buah adalah: ukuran buah terlihat maksimal, aroma mulai terasa, warna buah tampak cerah segar dan bila ditekan terasa kres.8.2. Cara PanenPemetikan apel dilakukan dengan cara memetik buah dengan tangan secara serempak untuk setiap kebun.8.3. Periode PanenPeriode panen apel adalah enam bulan sekali berdasarkan siklus pemeliharaan yang telah dilakukan.8.4. Prakiraan ProduksiProduksi buah apel sangat tergantung dengan varietas, secara umum produksi apel adalah 6-15 kg/pohon.9. PASCAPANEN9.1. PengumpulanSetelah dipetik, apel dikumpulkan pada tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan apel yang tinggi kualitas dan kuantitasnya. Pengumpulan dilakukan dengan hati-hati dan jangan ditumpuk dan dilempar-lempar, lalu dibawa dengan keranjang ke gudang untuk diseleksi.

Minggu, 16 November 2008

Nutrisi Sari Apel Malang, Nongkojajar Pasuruan-Jatim

"Kami Menyediakan Nutrisi SariApel Malang, Perkebunan Apel Berkelanjutan DiAreal Nongkojajar-Pasuruan, Jawa Timur" dengan beberapa kemasan 220 ml standard dan 120ml, kami tawarkan dengan harga yang kompetitip , murah dan terjangkau untuk kemasan 22o ml 1 Dos isi 24 gelas, sedangkan untuk 120 ml 1 dos berisi 40 gelas, silahkan hubungi kami Distributor Gresik,Surabaya,Sidoarjo,Lamongan,MALANG dan Sekitarnya Bp. BASORI ALWI Hp:0812356827, 0817303478,031 72735427, Juga Rekan2 DIGRESIK 031 78124955, 031 3957731  atau anda sekaligus mencari info untuk wisata kunjungi kami di http://wisatanegri.multiply.com/  , Promo Bareng and Rekan2
http://mars09.blogdetik.com/ , PromoBareng and Rekan
atau Ingin Menjadi Member Jaringan USAHA PULSA Serta Keagenan PULSA POTENSIAL dari DBS PT. DFI : member (user ID DBS : 3788888  marsoeroto@gmail.com UP Line DBS3788907 Basori Alwi) Graha Kembangan Asri FB-17, GRESIK 031 78124955 e-mail : info.warga@yahoo.com, titiknun@gmail.com, fathjaya@gmail.com, mh22joen@yahoo.co.id
 (Promo, Shinergy and Friends)


ID: DBS3788888 Marsuroto Up Line DBS 3788907 BASORI ALWI
PT. DFI (Duta Future International)

Bpk. Febrian Agung Budi P.
Presiden Direktur PT. DUTA FUTURE INTERNATIONAL.
Lebih dari 5.000 orang per hari bahkan lebih akan terus bertambah ikut bergabung dalam Duta Business School (DBS) melalui JARINGAN TIM DBS PULSA .

SISTEM kami memiliki jaringan yang solid, cepat berkembang dan terus bekerja tanpa henti siang malam tanpa kenal lelah, bahkan ketika kita tidur sekalipun... sistem kami terus bekerja dan bekerja untuk menggapai sebuah cita - cita ...GO FREEDOM.

SEMOGA USAHA KITA INI PENUH BERKAH...

Aa Gym
Bronze Entrepreneur
ID : DBS1302960

Untuk menjadi bagian dari DBS ini memerlukan perjalan yang panjang dan berliku... diawali dengan keingintahuan tentang status DBS dalam pandangan hukum Islam, sesudah mendengar langsung dari pimpinan DBS, lalu membaca fatwa MUI kodya Bandung, diskusi bersama Prof.DR.KH.Miftah Faridl ketua MUI Bandung, dilanjutkan diskusi bersama DR.Syafii Antonio yang kita kenal sebagai pakar ekonomi syariah, maka diputuskan bergabung. Dengan niat sebagai upaya membantu membuka lapangan kerja bagi masyarakat luas dalam situasi ekonomi yang sedang sulit, membantu membina agar member semakin meningkat keimanannya dan bersinergi untuk memberdayakan dhuafa dengan zakat infak shodaqoh. Bagi siapapun yang akan bergabung, silakan luruskan niat, dan jalani dengan sungguh-sungguh dijalan Allah SWT dan bila sudah dititipi rizki berbagilah dengan sesama. Terimakasih.

Untuk melihat TESTIMONI yang Lengkap Anda bisa membuka halaman Testimoni

SEMOGA SUKSES SEMUA, DAN BAROKAH, SISIHKAN RIZQI Anda Masing2 Kepada KAUM DHUAFA/Fakir Miskin, Anak2 Yatim Piatu, Janda2 Miskin, dll yg tidak mampu membiayai Sekolah Anak2nya....ammminnnn.

Wassalam